Selasa, 20 Desember 2011

hutbah idul adha 1432 H


Khutbah Idul Adha Empat Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Puja dan Puji syukur marilah senantiasa kita sanjungkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita semua  sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah Swt tidak memerintahkan kita untuk menghitung tapi mensyukurinya.
Shalawat terbingkai salam semoga abadi terlimpahkan kepada sang pembawa risalah kebenaran yang semakin teruji kebenarannya baginda Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabat, serta para pengikutnya. Semoga syafa’atnya selalu menyertai kehidupan ini.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Pada hari yang mulia ini, 10 Dzulhijah 1432 H seluruh umat Islam di seluruh jagad raya ini  memperingati hari raya Idul Adha atau hari raya qurban. Sehari sebelumnya, 9 Dzulhijah 1432 H, jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji wukuf di Arafah, berkumpul di Arafah dengan memakai ihram putih sebagai lambang kesetaraan derajat manusia di sisi Allah, tidak ada keistimewaan  antar satu bangsa dengan bangsa yang lainnya kecuali takwa kepada Allah.     
Dan Hari ini juga kita kembali di  ingatkan kepada kisah seorang kholilulloh kekasih Allah SWT,  nabi Ibrahim as yang Allah uji kecintaannya, antara cintanya kepada keluarga ( nabi Ismail as dan Siti hajar )  dan cintanya kepada Allah. Alhamdulillah cintanya kepada Allah melebihi dari segalanya, hal ini membuat kita bahkan nabi Muhammad SAW harus mengambil pelajaran darinya.
Allah berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sesungguhnya telah ada contoh teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.”    (QS. Al Mumtahanah: 4)
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Minimal ada Empat pelajaran yang terdapat dari kisah nabi Ibrahim as dan keluarganya:
Pesan Pertama: Berbaik sangka kepada Allah SWT
Di dalam kitab;  Anbiyaa Allah ( Nabi – Nabi Allah) di karang oleh Ahmad Bahjat beliau menjelaskan.
Pada suatu hari, Ibrahim as terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba dia memerintahkan kepada istrinya, Siti Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan yang panjang. Pada saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.
Ibrahim as melangkahkan kaki menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim  menuju ke sebuah lembah yang tidak di tumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan, tidak ada minuman, tempat itu menunjukkan tidak ada kehidupan di dalamnya.
Di tempat itu beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.
Tentu saja Siti hajar terperangah diperlakukan demikian, dia membuntuti suaminya dari belakang sambil bertanya“Ibrahim hendak pergi ke manakah engkau?” Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?
Ibrahim as tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan, Siti hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim as tetap membisu. Akhirnya Siti hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia bertanya,“apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami? Ibrahim menjawab, “benar“.  Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,” kami tidak akan tersia-siakan selagi Allah bersama kami. Dia-lah yang telah memerintahkan engkau pergi. Kemudian Ibrahim terus berjalan meninggalkan mereka.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Siti hajar, mampu berbaik sangka kepada Allah SWT mereka meyakini bahwa selagi mereka bersama Allah, maka tidak akan ada yang menyengsarakannya, tidak akan ada yang dapat mencelakainya, tidak akan ada yang dapat melukainya.
Bila kita lihat banyaknya manusia yang  frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka akan tetapi karena sedikitnya husnu dzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah, Padahal nikmat yang Allah berikan lebih banyak dari pada siksanya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah karena Allah menjelaskan dalam hadits qudsi bahwa Dia sesuai prasangka hambanya;
Dari Abu Hurairah RA berkata, bersabda Rasulullah saw.: Allah berfirman:“Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Allah akan berbuat terhadap hamba-Nya sesuai persangkaannya. Jika hamba itu bersangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Jika hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hambanya yang berbaik sangka kepada-Nya.
Seorang hamba yang bijak adalah mereka yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak merasa dimuliakan dengan kenikmatan duniawi tersebut. Jika ia diuji dengan penderitaan atau kekurangan, ia merasa bahwa Allah sedang  mengujinya agar ia dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.
Kita harus belajar kepada Siti hajar walaupun dia seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian di tinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang, tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah maka Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Allah pasti akan membantunya, kisah ini bukan hanya untuk Siti hajar saja, kisah ini bukan untuk zaman itu saja, akan tetapi kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala hal.
Pelajaran kedua: Mencari rezeki yang halal
Setelah Ibrahim as meninggalkan istri dan anaknya untuk kembali meneruskan perjuangannya berdakwah kepada Allah. Siti hajar menyusui Ismail sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas matahari saat itu menyengat sehingga terasa begitu mengeringkan tenggorokan. Setelah dua hari, air yang di bawah habis, air susunya pun kering. Siti hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis, kegelisahan dan kekhawatiran membayangi Siti hajar.
Ismail mulai menangis karena kehausan. Kemudian sang ibu meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari – lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian dia naik ke atas bukit itu. Di taruhnya kedua telapak tangannya di kening untuk melindungi pandangan matanya dari sinar matahari, kemudian dia menengok ke sana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari – lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang, tetapi tidak ada seorang pun.
Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis . tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan naik ke atasnya. Kemudian dia ke bukit Marwa dan naik ke atasnya, Siti hajar bolak – balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Ada rahasia yang jarang di kupas dari kejadian ini..
Yaitu kesungguhan Siti hajar dalam mencari air di keluarkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa, walaupun bolak balik dari Shafa dan Marwa belum mendapatkan air dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki karena Kita di perintahkan bukan Cuma melihat hasil tapi juga usaha dan tenaga yang kita keluarkan, Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang yang bekerja keras.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasulullah melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitaman seperti lama terpanggang matahari.
Rasulullah bertanya, ‘Kenapa tanganmu ?’
Sa’ad menjawab, ‘ Wahai Rasulullah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku,’
Seketika itu, Rasulullah mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata,’Inilah tangan yang tidak pernah tersentuh api neraka,’
Hikmah dari kisah ini yaitu terdapat tanggung jawab seorang Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari dalam menafkahi anak dan istrinya melalui rizki yang halal. Tangan yang semata-mata berada di jalan Allah SWT dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan Amanah.
‘Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang giat bekerja.’(HR. Thabrani).
Rasulullah SAW bersabda,“Tidaklah sekali-kali seseorang itu makan makanan lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Daud AS itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari).
Bahkan Allah SWT berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴿١٠﴾
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumuah: 10)
ayat ini memotivasi kita untuk bekerja keras, setelah melaksanakan shalat karena dengan bekerja kita akan mendapatkan rezeki yang halal.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita, karena tidaklah tubuh yang di dalamnya ada barang haram kecuali neraka adalah lebih berhak untuk menjadi tempat kembalinya.
Rasulullah SAW: Wahai Sa’ad, murnikanlah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul doanya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)
Dan juga ketika tubuh termasuki dengan barang haram maka selama 40 hari amal ibadahnya tidak di terima Allah akan tetapi dosa – dosa yang diperbuatnya di catat oleh malaikat.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Hadirin yang dirahmati Allah SWT
Pelajaran yang ke tiga: Berkorban untuk Allah SWT
Ketika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim as tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim sudah tua. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah hendak menguji kecintaan Ibrahim as dengan ujian yang besar disebabkan cintanya itu.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴿١٠٢﴾
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.  (QS. Ash Shaaffat: 102 )
Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim as pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya? Salah besar jika ada yang mengira bahwa tidak ada pergulatan pada diri Ibrahim as. Tidak mungkin ujian sebesar ini terbebas dari pergulatan batin. Ibrahim berpikir,” mengapa? Ibrahim membuang jauh-jauh pikiran itu. Bukan Ibrahim namanya jikalau beliau mempertanyakan kepada Allah“mengapa” atau“karena apa“karena orang yang mencintai tidak akan bertanya mengapa? Ibrahim hanya berpikir tentang putranya, apa yang harus beliau katakana kepada anak itu, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?
Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata yang jujur dan lemah lembut kepada putranya, ketimbang menyembelihnya secara paksa.
Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail dan ayahnya Ibrahim mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Walaupun yang di korbankan adalah diri Ismail.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang di ajari oleh seorang anak dan ayahnya tentang makna pengorbanan kepada Allah dalam segala hal di kehidupan ini,
Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah, sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah“
Akan tetapi, pengertian korban bukan sekadar menyembelih binatang korban dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara filosofis, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.
Dalam konteks sejarah, dimana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam di Mekah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.   Rasulullah pernah ditimpuki dengan batu oleh penduduk Thaif, dianiaya oleh Ibnu Muith, ketika leher beliau dicekik dengan usus onta, Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang, Yasir dibantai, dan seorang  ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluan beliau dengan sebatang tombak.
Tak hanya itu, umat Islam di Mekah ketika itu juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, bagaimana lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah SAW. saat-saat diboikot oleh musyrikin Quraisy,   hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Pelajaran keempat adalah Mendidik Keluarga
Nabi Ismail tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya dan Siti hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar jika tidak di didik oleh nabi Ibrahim as. Dan nabi Ibrahim as tidak akan dapat sabar jika tidak didikan dari Allah SWT melalui wahyuNya.
Seorang anak dalam perkembangannya membutuhkan proses yang panjang, maka peran orang tua dalam membentuk perilaku yang berakhlaq mulia sangat dibutuhkan, perhatian sempurna kepada anak semenjak dari masa mengandung, melahirkan hingga sampai masa Kewajiban ini diberikan di pundak orang tua oleh agama dan hukum masyarakat. Karena seseorang yang tidak mau memperhatikan pendidikan anak dianggap orang yang mengkhianati amanah Allah. Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa Allah Swt. Pada hari kiamat nanti akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang perlakuan mereka kepada anaknya.

Kamis, 17 November 2011

bacaan solat sesuai hadits nabi Saw


BACAAN SHOLAT
A.     MACAM-MACAM DO’A IFTITAH
1.    Berdasarkan  Hadits  Dari  Abu  Hurairita  R.A
Allahumma Baa’id Baini Wabaina Khotoyaaya Kamaa Baa’adta Bainal Masriki Walmagribi, Allahumma Nakini Min Khotooyaaya Kamaa Yunakossaobul Abyadu Minadanas, Allahummagsilni Minkhotooyaaya Bilmaa’i, Wassalji, Walbarodi.
 {H.R. Bukhori – Muslim}
2.    Berdasarkan hadits Drai Nafi’ bin jubair bin muth’im RA.
“ Allahu Akbar Kabiron 3 Kali          
Wa Hamdu Lillahi Katsiran 3 Kali
Wasubhana Allahi bukrotan Wa Asilan 3 Kali
{H.R. Ahmad, Fikih Sunnah, jilid 1 hal 264}
3.    Berdasarkan Hadits Dari Umar R.A.
Subhaanaka Allahumma Wabihamdika Watabaarokasmuka Wata Aala Jaduka Walaailaha Goiruka
{H.R. Muslim}
4.    Berdasarkan Hadits Dari Ali R.A
Wajahtu wajhialiladzi fatorossamawaati Wal Ardi Hanifan Musliman Wamaa anaminal Musyrikin Ina Solaati Wanusuki Wamahyaaya Wamamaati Lilahi Robbil Aalamina Laa Syarikalahu Wabidalika Umirtu Waanaa minal Muslimiin, Allahumma Antal Maliku Laa Ilahaila Anta, Anta Robi Waana Abduka Dolamtu Nafsi Wataroftu Bidambi Faghfirli Dunubi zamii’an Inahu Laayaghfiru Dunuuba Ilaa Anta Wahdinii Li’ahsanil Ahlaki Laayahdi Li’ahsaniha ILaa anta Wasrip Anii Sayiahaa ILaa Anta Labaika Wasa’daika Walkhoiru Quluhu Fii Yadaika Wassuru Laisa Ilaika Annaa Bika Wailaika Tabarokta Wata’alita Astaghfiruka Wa’atubu ILaika
{H.R. Ahmad & Muslim, Dlm Fikih Sunnah Jilid 1 hal 262}

B.   Macam-Macam Do’a Ruku
1.    Berdasarkan Hadits Dari Uqbah Bin Amr R.A
“ Fasabbih Biismi Robbika Al Adiimi “ artinya dan hendaklah engkau memahasucikan tuhanmu yg maha besar.
{H.R. Ahmad & Abu Daud, Dlm Nailul Al-Authar jilid 3 Hal 274}
2.    Berdasarkan Hadits Dari Abudllah Bis Mas’ud R.A
“ Subhaana Robiya Al-Azimi 3 Kali” artinya Mahasuci tuhanku yg maha Besar.
{H.R. Abu Daud, jilid 1 hal 204}
3.    Berdasarkan Hadits Dari Aisyah R.A
Subhaanaka Allahumma Robanaa Wabihamdika Allahuma aghfirli
Artinya, mahasuci engkau ya Allah Tuhan kami dengan memujiMu Ya Allah Ampunilah aku.
{H.R. Jamaah}
4.    Berdasarkan Hadits dari Aisyah R.A
“Subuhun Quduusu Robul Malaikati Warruhi” artinya, Dia Maha Suci Maha Bersih, Robnya Malaikat & Malaikat Jibril.
{H.R. Muslim, Dlm Nailul Al-Authar, jilid 2 Hal 275}


v  Bacaan Tasmi “ Sami Allahu Liman Hamidahu
C.   Macam-macam Bacaan I’tidal
1.    Berdasarkan Hadits dari Anas R.A
“Robbana Walakal Hamdu” artinya, Ya Tuhan kami bagi-Mulah Segala Puji.
{H.R. Bukhori & Muslim, Dlm Nailul Al-Authar, Jilid 2 Hal 28}






2.    Berdasarkan Hadits Dari Abu Khurairoh R.A
“ Allah Humma Robanaa Lakal Hamdu milussamawati Wamil Ul’ardi Wamil Umaa Si’tamin Syaiin Ba’du”
{H.R. Muslim, Jilid 1 hal 198}
3.    Berdasarkan Hadits dari Abi Aufa R.A
“ Robbanaa Lakal Hamdu milussamaawati Wal ardi Wamilu Maa Si’tamin Syaiin Ba’du Ahlan Sanaai Walmazdi Ahaqu Maakolal Abdu Wakulna Laka Abdun Allahumma Laamaania Limaa A’toita Walaa Mu’tia Limaa Mana’ta Walaa Yanfau Dalzaddi Minkalzad’
{H.R. Muslim, Jilid 1 Hal 199}
4.    Berdasarkan Hadits dari Rifa’ah bin rafi R.A
Robanaa Lakal Hamdu Katsiron Toyiban Mubaarokan piihi, artinya Ya Tuhan Kami, bagiMulah puji-ujian yang sebanyak-banyaknya, penuh berkah didalamnya
{H.R. Ahmad & Bukhori, dlm Fikih Sunnah, jlid 1 hal 163}

D.   Macam-macam bacaanSujud
1.    Berdasarkan Hadits dari Ukhbah R.A
“Sabihis Marobikal A’la” Artinya, Dan hendaklah engkau memaha sucikan nama Tuhan mu yang maha tinggi.
{H.R. Imam Ahmad & Abu daud, Dlm Nailul Al_authar, jilid 3 hal 274}
2.    Berdasarkan Hadits dari Hudaifah R.A
“Subhaana Robial A’la” artinya Mahasuci Tuhanku yang Maha Tinggi.
{H.R. Imam yang Lima, dlm Nailul Al-authar, jilid 2 hal 273}
3.    Berdasarkan Hadits dari Aisyah R.A
 Subhaanaka Allahumma Robanaa Wabihamdika Allahuma aghfirli
Artinya, mahasuci engkau ya Allah Tuhan kami dengan memujiMu Ya Allah Ampunilah aku.
{H.R. Jamaah}
4.    Berdasarkan Hadits Dari Abu Khurairota R.A
“ Allahummaghfirlii Dambi Kuluhu dikohu Wajuluhu Wa awaluhu Wa akhiruhu Wa alainyatahu Wasirohu”  artinya , Ya Allah ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar yang pertama dan yang terakhir, yang tampak dan yang tersembunyi.
{H.R. Muslim, jilid 1 hal 201}

E.   Macam-macam doa duduk diantara dua sujud
1.    Berdasarkan hadits dari hudaifah R.A.
“Robighfirlii, Rabighfirlii” artinya Ya Allah ampunilah aku.
{H.R.Nasa’I & ibnu majah}
2.    Bedasarkan Hadits dari Ibnu Abbas R.A
“Allahumaghfirli Warhamni Wa afini Wahdini Warjukni” artinya, Ya Allah ampunilah aku, Rahmatilah aku, Selamatkanlah aku, Berilah aku petunjuk, dan berikanlah aku Rizki.
{H.R. Abu Daud, Jilid 1 hal 196}
3.    Berdasarka Hadits dari Ibnu Abbas R.A
“ Allahumaghfirli Warhamni Wajburnii Wahdini Warjukni” Artinya, Ya Allah ampunilah aku, Rahmatilah aku, pimpinlah aku, berikanlah aku petunjuk dan berikanlah aku rizki.
{H.R. Tirmidzi, tuhfatu al-ahwadzi, jilid 2 hal 163}
4.    Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas R.A
“ Allahumaghfirli Warhamni Wajburni Warfa’ni Wahdini Warjukni” artinya, Ya Allah ampunilah aku,, Rahmatilah aku, tingkatkanlah derajatku, tutupilah aku, pimpinlah aku, dan berikanlah aku rizki.
{H.R. Hakim, dlm Al-Mustadrok, jilid 1 hal 172}









F.    Macam-macam do’a Tasyahud
1.    Berdasarkan hadits dari Abudllah bin Mas;ud R.A
“Attahiyatulilah Wassolawatu Watoyibah Assalamu alaika Ayuhannabiyu warohmatullahi wabarokaatuh assalamu alaina waalaibadillahi solihin Asyhadu An Laailhaila Allah Wahdahulasyarikalah Wa Asyhadu Anna muhammadan ‘Abduhu Warosuluhu”
{H.R.Bukhori-Muslim, dlm Subu as-Salam, jilid 1 hal 19}
2.    Berdasarkan hadits dari ibnu Abbas R.A
“Attahiyatul mubaarokatu Solawatu thoyibatu Lilaah Assalamu alaika Ayuhan nabiyu warohmatullahi wabarokatuh assalamu’ alaina wa alaibadilahi solihin Asyhadu an laailaha Ila Allah wa ashadu anna muhammadar Rosulullah”
{H.R. Muslim, jilid 1 hal 172}

G.   Bacaan sholawat atas Nabi
Dari ibnu mas’ud ra ia berkata : bahwa basyir bis saad telah bertanya, Ya rosulullah, allah telah memerintahkan kepada kami untuk membaca sholawat kepadamu, maka bagai mana seharusnya kami membaca sholawat kepadamu ?
Allahmma Sholi ‘al Muhammad Wa ‘Alaa Ali Muhammad kamaa Sollaita ‘Ala Ali Ibrohim Wabaarik ‘Alaa Muhammad Wa alaa ali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ali ibrohim pilalamin, Innaka hamidummajid
{H.R. Muslim, jilid 1 hal 173}